Dari Nagari ke Nagari, Welly-Parulian Menjemput Harapan Untuk Pasaman Bangkit
Pasaman,Jurnalisme info.-
Ditengah keterbatasan anggaran dan tekanan efisiensi fiskal yang dirasakan hampir seluruh daerah, membangun Pasaman bukanlah pekerjaan mudah. Tidak cukup hanya dengan pidato, baliho, atau janji kampanye. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk tetap berjalan, bahkan ketika jalan terasa berat.
Di Kabupaten Pasaman, harapan itu perlahan sedang dihidupkan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman di bawah kepemimpinan Bupati Welly Suhery dan Wakil Bupati H. Parulian terus mendorong sepuluh Program Unggulan (Progul) Pasaman Bangkit agar tidak berhenti sebagai slogan.
Program-program itu kini bergerak menyentuh kehidupan masyarakat, dari sawah petani, ruang kelas sekolah, layanan kesehatan, hingga ke pelosok jorong yang selama ini sulit tersentuh internet.
Pada 17 April 2026 lalu, di Balerong Pusako Anak Nagari, Rumah Dinas Bupati Pasaman, suasana evaluasi program berlangsung serius namun penuh harapan.
Seluruh pimpinan daerah, para kepala OPD, hingga Tim Percepatan Pembangunan duduk bersama memastikan satu hal, yakni apakah mimpi besar Pasaman Bangkit benar-benar sedang berjalan di tengah masya
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pasaman, Yudesri didampingi Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pasaman, Roichard, mengatakan evaluasi terhadap progul dilakukan agar seluruh program tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan.
Kita ingin memastikan semua program tetap _on the track_ dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” Ujar Sekda Yudesri.
Sekda Yudesri menjelaskan, dari hasil evaluasi itu, satu demi satu harapan mulai menunjukkan wujudnya. Di sejumlah kecamatan seperti Simpati, Bonjol, Panti, dan Rao Selatan, program Wirid Remaja Bangkit mulai menghidupkan kembali denyut pembinaan generasi muda berbasis ABS-SBK.
Ia mengatakan, anak-anak muda yang sebelumnya kehilangan ruang pembinaan kini kembali berkumpul di surau dan masjid, belajar tentang agama, adat, dan masa depan mereka. Jelas Yudesri.
Yudesri menambahkan, di Pasaman bukan hanya pemerintah, organisasi masyarakat Islam pun turut bergerak bersama mendukung agar kegiatan itu hidup hingga ke seluruh kejorongan di Pasaman. Sebab mereka sadar, membangun daerah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun karakter generasi. Kata Yudesri.
Gerak cepat dalam membenahi sektor-sektor krusial masyarakat ditengah keterbatasan fiskal hari ini di Pasaman di sejumlah bidang terus bergerak cepat menuju lebih baik, di bidang kesehatan misalnya, harapan masyarakat kecil juga mulai dijawab. Dimana Program berobat gratis dan layanan ambulans SIGAP terus diperkuat.
OPD lingkup kesehatan tengah menyiapkan survei kepuasan masyarakat terhadap aplikasi layanan kesehatan SIGAP, sekaligus mengoptinalkan kembali Rekam Medis Elektronik (RME) di RSUD Tuanku Imam Bonjol.
Bagi warga yang selama ini kesulitan mendapatkan pelayanan cepat dan layak, langkah kecil ini menjadi tanda bahwa negara masih hadir untuk mereka.
Sementara itu di dunia pendidikan, program seragam gratis mulai dipersiapkan agar anak-anak Pasaman dapat bersekolah tanpa membebani orang tua. Pemerintah menargetkan seragam sudah dapat diterima siswa baru paling lambat Juli hingga awal Agustus 2026.
Bagi sebagian keluarga, mungkin seragam hanyalah kain dan jahitan. Tetapi bagi orang tua yang hidup pas-pasan, seragam sekolah adalah harga diri dan harapan agar anak mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Tak hanya itu, semangat perubahan juga mulai menyentuh birokrasi. Melalui program ASN Bangkit, disiplin aparatur diperkuat agar pelayanan kepada masyarakat tidak lagi lambat dan berbelit. Sebab pembangunan tidak akan pernah berjalan jika pelayan publik tidak ikut berubah.
Di sektor pertanian, aplikasi “BAGUS” atau Bajak Gratis Untuk Semua mulai disiapkan untuk membantu petani kecil mendapatkan akses bajak gratis. Pendaftaran akan dimulai Mei 2026 dengan target musim tanam Juni mendatang.
Bagi petani di Pasaman, bantuan seperti ini bukan sekadar program. Ia adalah penyambung harapan agar sawah tetap digarap dan dapur tetap mengepul.
Sementara bagi para pencari kerja, pemerintah juga membuka jalan baru. Sebanyak 12 lembaga dan perusahaan penempatan kerja telah dijajaki untuk membuka peluang kerja di dalam dan luar negeri, mulai dari Batam, Malaysia, Jepang, hingga Jerman.
Di sisi lain, rumah-rumah tidak layak huni juga mulai diperhatikan. Ratusan unit rumah telah dibangun, ditambah bantuan swadaya masyarakat yang menunjukkan bahwa gotong royong di Pasaman masih hidup.
Bahkan di daerah terpencil, internet gratis mulai hadir perlahan. Hingga April 2026, puluhan jorong sudah mulai menikmati akses internet yang mendukung pendidikan dan layanan kesehatan.
Bagi anak-anak di daerah 3T, koneksi internet bukan hanya soal teknologi, tetapi jendela untuk melihat dunia yang lebih luas.
Pemkab Pasaman juga membentuk Pusat Kreativitas Anak Nagari di seluruh nagari. Ruang ini diharapkan menjadi tempat anak muda menampilkan seni, budaya, dan kreativitas mereka agar identitas Pasaman tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sementara dalam menghadapi ancaman bencana, seluruh nagari di Pasaman ditargetkan masuk kategori Nagari Siaga Bencana. Penanaman ribuan pohon pun dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga alam untuk generasi mendatang.
Semua langkah itu mungkin belum sempurna. Masih ada keterbatasan, kendala anggaran, hingga proses yang berjalan perlahan. Namun satu hal yang mulai terlihat adalah adanya kemauan untuk terus bergerak.
Sebab masyarakat tidak selalu meminta pembangunan yang mewah. Mereka hanya ingin didengar, diperhatikan, dan diyakinkan bahwa masa depan daerah mereka masih layak diperjuangkan.
Dan di Pasaman hari ini, harapan itu sedang diusahakan sedikit demi sedikit, dari nagari ke nagari. Pasaman Bangkit, pada akhirnya, bukan sekadar slogan.
Ia adalah tentang petani yang tetap menanam meski hidup sulit. Tentang anak sekolah yang menunggu seragam baru. Tentang ibu yang berharap ambulans datang tepat waktu. Tentang pemuda nagari yang kembali memenuhi surau. Tentang daerah yang memilih bangkit, meski dengan segala keterbatasan.
Anjasri,C.PIL

