Pasaman Barat, Jurnalisme.info-
Setelah hampir dua dekade dalam proses pengembangan, Pelabuhan Teluk Tapang yang berlokasi di Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, kini memasuki tahap penting dalam upaya menjadi pelabuhan pengumpul regional yang mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi. Rencana pembangunan dalam bentuk Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) bahkan telah memasuki tahap konsultasi publik pada September 2025 silam, menjadi tonggak baru bagi perjalanan panjang proyek yang dirintis sejak tahun 2005.
Sejarah Panjang Perjuangan Pembangunan
Menurut Bupati Pasaman Barat Yulianto, upaya membangun pelabuhan ini dimulai sejak tahun 2005 dengan berbagai kajian awal, termasuk studi kelayakan dan master plan. Pekerjaan fisik dermaga sendiri dimulai secara bertahap pada 2008 hingga 2013 dengan nilai investasi sekitar Rp 231,2 miliar, di bawah kepemimpinan Gubernur Sumatera Barat periode itu. Proyek sempat terhenti sebelum dilakukan reviu Rencana Induk Proyek (RIP) oleh Kementerian Perhubungan pada 2019 dan reviu Detail Engineering Design (DED) pada 2020.
Pada 2013, pelabuhan ini ditetapkan sebagai pelabuhan pengumpan regional, kemudian dinaikkan statusnya menjadi pelabuhan pengumpul pada 2017 berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP. 432 Tahun 2017. Fungsi utamanya adalah melayani angkutan laut dalam negeri skala menengah, serta menjadi tempat asal tujuan penumpang dan barang dengan jangkauan antar provinsi.
Potensi Ekonomi yang Menjanjikan
Kabupaten Pasaman Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata. Khususnya untuk komoditas kelapa sawit, lahan perkebunannya mencapai ±189.883 hektare dengan produksi Tebu Biji Segar (TBS) hampir 3 juta ton per tahun. Saat ini, produk olahan seperti CPO, kernel, dan cangkang masih harus dikirim ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang dengan jarak ±193 kilometer yang memakan waktu enam jam, menyebabkan biaya tinggi dan kerusakan jalan.
"Kehadiran Pelabuhan Teluk Tapang diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk lokal, bahkan membuka peluang ekspor menuju pasar dunia," ujar Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dalam kunjungan tahun 2020.
Selain itu, dalam rapat strategis pada Juni 2025, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Sumatera Barat menyatakan bahwa pengembangan pelabuhan ini akan disinergikan dengan revitalisasi Pelabuhan Teluk Bayur dan penguatan Pelabuhan Panasahan, menjadikan tiga pelabuhan tersebut sebagai simpul konektivitas ekonomi yang saling mendukung untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 7,3% pada 2029.
Kemajuan Infrastruktur dan Aksesibilitas
Pelabuhan Teluk Tapang memiliki luas lahan sekitar 12,15 hektare yang merupakan hutan produksi pinjam pakai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pembangunan akses jalan sepanjang 43,2 kilometer menuju pelabuhan telah hampir selesai, hanya tersisa sekitar 5–6 kilometer yang perlu ditingkatkan, sementara sejumlah jembatan telah dibangun dengan anggaran Rp 28,6 miliar.
Secara operasional, pelabuhan ini berjalan 24 jam sehari dan melayani kebutuhan transportasi kapal, pengiriman barang, cargo, serta penyebrangan kendaraan dan penumpang. Loket tiket dan fasilitas pendukung lainnya telah tersedia untuk memudahkan pengguna.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun telah menunjukkan kemajuan signifikan, pelabuhan ini masih menghadapi tantangan dalam hal penyelesaian perizinan lahan dan optimalisasi armada kapal. Selain itu, perlu kerja sama erat antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan pihak swasta untuk memastikan pelabuhan beroperasi secara maksimal dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Bupati Yulianto berharap bahwa dengan terlaksananya proyek KPBU, Pelabuhan Teluk Tapang akan segera berperan sebagai motor penggerak ekonomi daerah dan menjadi pintu gerbang ekspor yang handal bagi Sumatera Barat.
salam:jurnal oloan hasibuan,
