Riau Silip, Jurnalisme.info-
Aktivitas Pertambangan timah tanpa izin (Ilegal) di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan muara sungai Perimping
Kecamatan Riau Silip , Kabupaten Bangka , kembali marak meskipun telah berulang kali ditertibkan oleh aparat penegak hukum
Alur Daerah Aliran Sungai (DAS) Perimping dan hutan bakau menjadi saksi bisu dari keberanian para penambang ilegal yang seakan tidak terjangkau oleh tangan hukum , meninggalkan kerusakan lingkungan hidup dan kerugian negara yang tak terhitung Sabtu (13/9/2026)
Jejaring media Babel telah lama mengawasi kegiatan ini , mencatat dengan detail setiap langkah dari puluhan PIP TI Rajuk yang beraksi dengan bebas dikawasan terlarang
Kawasan perairan DAS Perimping , terutama di kecamatan Riau Silip , menjadi pusat perhatian , di mana hutan bakau / Mangrove semakin rusak parah, menandai keberlanjutan dari keganasan para pelaku tambang timah ilegal ini
Bahkan ditengah sorotan media dan perhatian masyarakat , puluhan PIP jenis TI Rajuk terus beroperasi , bahkan berlokasi tidak jauh dari jembatan sungai Perimping
Jembatan yang menjadi satu- satunya jalur penghubung antara dua kabupaten , Bangka Barat dengan Bangka Utara , kini terancam roboh , karena aksi nekat para penambang yang kian menganas
Tindakan ini menjadi gambaran nyata ketidak pedulian mereka terhadap lingkungan dan infrastruktur publik yang seharusnya dilindungi
Tidak hanya di sepanjang alur sungai DAS Perimping , melainkan juga di darat , didalam kawasan hutan mangrove/Bakau , aktivitas tambang ilegal semakin menjadi ancaman serius .
Situasi semakin rumit saat terkuak bahwa oknum APH yang seharusnya menjadi penegak hukum dan melindungi lingkungan justru terlibat dalam pusaran tambang timah ilegal di sungai Perimping
Sungguh mengejutkan , karena oknum APH yang diharapkan memahami aturan dan Hukum malah terlibat dalam aktivitas ilegal yang berpotensi mengancam ekosistem dan menyebarkan bencana ekologis , seperti banjir bandang akibat sedimentasi sungai
Seorang nelayan sungai setempat BD dari desa Berbura Riau Silip , menyampaikan keputusasaan masyarakat
"Sudahlah, bang tidak ada masyarakat yang berani nambang di sungai alur sungai Perimping dan hutan Bakau kalau tidak ada aparat baju coklat dan hijau yang ikut menjadi pelaku tambang dan yang memback up nya " ujar nya mencerminkan pasrahnya masyarakat terhadap sikap aparat yang dinilai tidak tegas
Meskipun begitu masih ada harapan , masyarakat Bangka Belitung lainnya masih mempercayai bahwa ada pimpinan Polri dan TNI yang berpegang teguh pada nilai merah putih dan tidak terlibat dalam ' sistem koordinasi " yang mencurigakan
Oleh karena itu mereka memohon kepada pimpinan tertinggi di Bangka Belitung , Kapolda Kepulauan Bangka Belitung , serta unsur TNI seperti Danrem & Danlanal , untuk turun bersama-sama dan mengambil langkah tegas
Harapan adalah agar oknum anggotanya yang terlibat sebagai pelaku tambang ilegal dan pembekingnya dapat ditindak dengan keras
"Semoga dengan diberitakan media fakta info sampai ke Kapolri dan Panglima TNI , sehingga dapat menurunkan tim nya melakukan penindakan yang tegas"pungkas BD dengan suara penuh harapan
Masyarakat Bangka Belitung berharap bahwa liputan ini akan menjadi panggilan tindakan bagi pihak berwenang untuk mengatasi permasalah ini , dan mengembalikan kehidupan pulau ini ke jalan yang benar.
(Jurnalisme info/Toro)




