Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Selatan, termasuk kawasan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, hingga Palembang, pada penghujung Agustus 2026.
Pantauan di wilayah Gelumbang, Selasa (25/8/2026), sekitar pukul 14.00 WIB hingga 17.25 WIB, kabut asap terlihat cukup pekat dan mengganggu jarak pandang masyarakat. Kondisi tersebut turut dirasakan warga saat beraktivitas, terutama pada siang hingga sore hari.
Sejumlah warga mengeluhkan dampak kabut asap, mulai dari mata terasa pedih, jarak pandang menurun, gangguan pernapasan, hingga keluhan sakit kepala.
Namun, terkait dugaan dampak kabut asap terhadap peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Gelumbang, Direktur RSUD Pratama Gelumbang memberikan penjelasan saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
“Wa'alaikumsalam, selamat pagi. Sejauh ini untuk kasus gawat darurat dan rawat jalan belum ada kenaikan yang signifikan untuk penyakit terkait gangguan pernapasan. Namun, untuk di poli rawat jalan memang ada sedikit kenaikan angka kunjungan di bulan Agustus ini dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” jelas Direktur RSUD Pratama Gelumbang.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini belum terlihat peningkatan signifikan kasus gangguan pernapasan yang ditangani di instalasi gawat darurat maupun rawat jalan. Meski demikian, terdapat sedikit peningkatan jumlah kunjungan di poli rawat jalan selama Agustus dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Ia kemudian menyampaikan perkembangan terbaru terkait sejumlah penyakit gangguan pernapasan yang ditangani pihak rumah sakit.
“Untuk bronkopneumonia, bronkitis, dan asma sejauh ini sudah 12 kasus,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Rabu (26/8/2026).
Meski demikian, pihak RSUD Pratama Gelumbang belum menyimpulkan bahwa seluruh kasus tersebut berkaitan langsung dengan kabut asap akibat karhutla. Rumah sakit juga menerima pasien dengan berbagai kondisi dan kasus rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Kalau kunjungan ISPA secara umum mungkin di puskesmas yang tinggi, karena kami menerima kunjungan rujukan kasus spesialistik yang tidak selesai di puskesmas,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, RSUD Pratama Gelumbang juga telah menginstruksikan tim promosi kesehatan (Promkes) untuk melakukan sosialisasi kepada pasien dan keluarga.
“Kita sudah perintahkan tim Promkes untuk sosialisasi aktif ke pasien dan keluarga untuk memakai masker saat aktivitas,” katanya.
Imbauan tersebut menjadi salah satu langkah antisipasi di tengah kondisi udara yang terdampak kabut asap. Masyarakat juga diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap semakin pekat serta menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan debu dan asap.
Sementara itu, informasi yang dihimpun menyebutkan Kabupaten Muara Enim, termasuk kawasan Gelumbang, menjadi salah satu wilayah yang perlu mewaspadai potensi karhutla. Sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan, seperti Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Banyuasin, juga memiliki tingkat kerawanan karhutla.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kemunculan titik panas (hotspot) dan risiko kebakaran lahan.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah perlindungan dari paparan asap dan debu yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
“Warga di Gelumbang Raya diminta waspada terhadap suhu panas, debu kemarau, dan potensi kabut asap akibat puncak musim kemarau serta dampak karhutla,” demikian imbauan BMKG Sumsel, Selasa (25/8/2026).
Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, Kecamatan Gelumbang dan sekitarnya menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kejadian kebakaran lahan, salah satunya di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim.
Dalam penanganan di lapangan, petugas gabungan dari Polsek Gelumbang, Manggala Agni, BPBD, TNI, serta masyarakat terus melakukan pengecekan lapangan (ground check) dan upaya pemadaman serta penyiraman di lokasi yang terdapat titik api.
Gubernur Sumsel Ajak Masyarakat Perbanyak Doa
Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko karhutla, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengajak masyarakat memperkuat gotong royong dan memperbanyak doa agar wilayah Sumsel segera mendapatkan curah hujan.
Ajakan tersebut disampaikan Herman Deru usai mengikuti Salat Istisqa bersama masyarakat di halaman Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026) pagi.
Salat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan munajat kepada Allah SWT agar Sumatera Selatan segera mendapatkan hujan setelah menghadapi musim kemarau.
Menurut Herman Deru, Salat Istisqa juga menjadi momentum untuk memohon pertolongan Allah SWT sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kemarau.
“Ini adalah hari di mana kita bersama-sama, setelah menjalankan berbagai upaya ikhtiar, untuk tetap tegar dan tabah menjalani musim kemarau yang bersamaan dengan El Nino,” ujar Herman Deru.
Ia menambahkan, kondisi kemarau juga ditandai dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang fluktuatif akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kondisi udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap semakin pekat, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api guna mencegah meluasnya kebakaran.





